Jalan-jalan ke Main Street dan Hari Valentine

 

427240_2575627312222_1175496262_n

Acara pertemuan dikelas International wives kemarin, ternyata menyisakan cerita. Hari itu kami membahas tentang hari Valentine. Sayangnya saya telat hadir sekitar 10 menit, jadi tidak ikut mendengarkan, apakah setiap negara merayakannya atau tidak. Tapi saya cukup beruntung ketika datang, para ibu koordinator yang notabene merupakan native Amerika, menanyakan kepada saya, apakah dinegara saya merayakan Valentine atau tidak. Saya bicara terus terang, dan satu catatan disaya bahwa orang-orang bule ditempat saya khususnya, akan lebih respect jika kita terus terang. Jadi teringat kisah teman Malaysia saya minggu lalu, ketika dia diundang makan, sempat memberikan list makanan yang tidak boleh dia makan, dan selanjutnya di dinner-dinner berikutnya, tidak ada makanan yang ada dalam list, bahkan tuan rumah yang nota bene native Logan Amerika ini menanyakan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan, dan tidak boleh dimakan,maka mereka akan hormati hal itu.

Tapi saya juga tekankan, kondisi ini terjadi di state tempat saya tinggal, entah untuk state/negara bagian lain Amerika, yang jelas, keterus terangan di state lain mungkin justru berimplikasi beda, yang akhirnya memaksa muslim disini ‘terpaksa’ harus menyembunyikan identitasnya, yang saya yakin salah satu sebabnya karena ‘miring’nya pemberitaan dimedia-media di Amrik selama ini. Ini saya jumpai disalah satu program reality show disini, pada program yang ditayangkan di salah satu channel yang menayangkan tentang kehidupan muslim amerika. Dari sisi konten, sebenarnya terhitung ‘biasa saja’, dalam arti hanya mengupas bagaimana sebenarnya kehidupan muslim sehari-hari, mulai dari sholat, suasana pernikahan, kerudung, namun reaksinya cukup beragam. Bahkan belakangan, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di amerika, menarik supportnya di acara ini. Sekali lagi, reaksinyapun cukup beragam. Saya pribadi sempat mengikuti komentar-komentarnya, yang kebetulan berita ini pernah di share di page facebook salah satu koran terbesar di amerika.

Kembali pada jawaban saya di kelas International wives, saya katakan, bahwa dinegara saya tidak mengenal perayaan Valentine ini, cuma saya juga mengungkapkan,bahwa sebagian remaja di Indonesia, ikut-ikutan merayakan hari yang kami sendiri tidak tahu asal muasalnya. Akhirnya, si ibu menjelaskan hakikat hari Valentine ini, khususnya di wilayah tempat tinggal saya saat ini(Logan). Beliau katakan, Valentine itu sarat dengan kasih sayang, biasanya mereka saling memberikan hadiah atau sesuatu yang berkesan untuk orang-orang yang disayang. Dan kegiatan yang dilakukan selain memberikan sesuatu berupa kartu,makanan, mereka juga mengadakan kumpul-kumpul bersama, minum teh bersama, sambil sesekali berbincang-bincang sambil saling membagi hadiah satu sama lain.

Sepulang dari pertemuan sengan para istri international itu,saya jadi penasaran,apa hakikat hari Valentine itu, dan bagaimana setiap negara baik di Amerika maupun diseluruh dunia, akhirnya saya coba berselancar ke dunia maya, dan mencari berita-beritanya melalui tayangan televisi di Amerika.

Untuk tayangan Televisi sendiri, lebih kearah iklan-iklan yang sarat dengan nuansa Valentinan, dan mungkin beberapa hari menjelang Valentinan, iklan-iklan tersebut akan lebih sarat nuansanya ketimbang hari-hari biasa, meski tetap tidak seramai suasana natal. Tapi kalau saya perhatikan, kondisinya tidak jauh beda dengan petelivisian di Indonesia, contohnya iklan permen KIS*, yang saya ingat saat Valentinan, seringkali iklan itu ditayangkan meski tidak secara langsung memberikan ucapan. Nah,iklan disinipun semacam itulah, meski lebih luas maknanya, misalnya ada iklan yang bertema Valentinan tapi disitu digambarkan setiap orang mengucapkan makna kasih sayang,dan mengungkapkan rasa sayangnya melalui bahasa lisan,mulai dari laki-laki,perempuan,bapak-bapak dan anak-anak. Tapi buat saya intinya tidak jauh beda,kondisi pertelevisian di Indonesia dengan disini,terutama menjelang Valentinan.

Selain televisi, beberapa hari ini saya dan sikecil tak sengaja berkeliling main street,dimana toko-toko berjejer. Kebetulan selain hobi mengambil gambar sikecil, dengan background toko-toko tadi, sesekali saya memperhatikan barang-barang apa yang dijual di etalase. Seminggu belakangan, memang terlihat suasana Valentinannya, tapi hanya dua toko yang saya lihat, disana dijual kartu-kartu,serta barang-barang bernuansa pink. Selain etalase di main street,saya juga sempat mampir ke toko yang menawarkan barang serba satu dolar,dan supermarket. Suasananya pun serba pink, ada balon-balon berbentuk love, kartu-kartu, dan atribut-atribut serba pink. Tapi sebenarnya suasana ini juga saya jumpai di mall-mall Indonesia, dan sayapun sempat membatin, bahwa kondisi  Valentinan di Amrik gak jauh beda dengan di Indonesia, terutama dari sisi suasana pusat perbelanjaan dan dunia pertelevisian.

Meski demikian, saya masih penasaran dengan hakikat hari Valentine ini, akhirnya say coba searching di internet, salah satunya saya dapat dari Wiki dan beberapa link serupa. Disitu dikatakan, bahwa hari Valentine merupakan Hari yang dirayakan sebagai simbol kasih sayang, bermula dari Festival Lupercalia yang berlangsung di jaman kerajaan Romawi, sekitar abad ke-3. Festival yang berlangsung setiap 13-18 Februari ini diawali dengan persembahan untuk dewi cinta Juno Februata.

Tepat pada 14 Februari, para pemuda akan mengundi nama-nama gadis dari dalam kotak kaca. Gadis yang terpilih akan menjadi pasangannya selama setahun untuk kesenangan dan objek hiburan.

Sehari kemudian, mereka akan meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan makhluk jahat. Saat itu, para pemuda akan melecut para gadis dengan kulit binatang. Mereka percaya lecutan itu akan meningkatkan kesuburan para gadis.

Festival iti tak jarang membuat banyak pasangan saling jatuh cinta, berpacaran, dan akhirnya menikah. Dalam perkembangannya, penguasa dan para tokoh agama setempat mengadopsi upacara ini dengan nuansa Kristiani seiring masuknya Kristen Katolik sebagai agama kerajaan.

Saat Romawi terlibat peperangan, efek festival itu membuat Kaisar Claudius II, yang berkuasa saat itu, kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat pasukan perangnya. Banyak pemuda yang berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya.

Atas kondisi itu, Claudius II akhirnya memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Kebijakan ini rupanya mendapat pertentangan dari salah satu pastor setempat bernama Valentine. Konon, Claudius II pun murka melihat Valentine diam-diam tetap menikahkan pasangan yang jatuh cinta. Sang kaisar segera memerintahkan pengawal kerajaan untuk menangkap Valentine dan memenggalnya. Valentine meninggal tepat 14 Februari tahun 270 Masehi.

Demi mengenang perjuangan Santo Valentine, tokoh agama mengganti nama festival Lupercalia dengan festival Valentine. Dalam perkembangannya, 14 Februari menjadi momentum sakral bagi para pria untuk memilih gadis yang hendak dijadikan pasangan hidupnya.

Meski tak diketahui apakah legenda ini benar atau tidak, tapi ini adalah penjelasan yang tepat versi Kristen atas yang terjadi pada Lupercalia.

Di kehidupan modern, Valentine diabadikan sebagai hari kasih sayang. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal oleh Esther A Howland pada 1847. Di Jepang, Valentine dianggap sebagai hari saat para wanita memberi permen cokelat untuk pria yang mereka senangi.

Sementara di Indonesia, budaya semacam itu juga mulai menjamur terutama di kalangan anak muda. Banyak pusat perbelanjaan dan kafe yang menghias tempat mereka dengan warna pink. Cokelat dan kartu-kartu Valentine bertuliskan kata-kata cinta juga kian diminati, terutama di kota-kota besar.

Nah, dari sini saya menyimpulkan bahwa hari Valentine bukanlah budaya yang harus dilestarikan, bahkan jika dikaitkan dengan agama(yang seharusnya menjdai kewajiban kita untuk selalu bersandar padanya), jelas ini tidak pernah dicontohkan oleh junjungan kita Rasulullah saw, bahkan bisa jadi, jika Rasulullah menjumpai bahwa sebagian umatnya merayakan sesuatu yang jelas-jelas bukan dari agamanya, pastinya beliau saw akan sangat bersedih. Apalagi ada salah satu hadits yang menyatakan,”“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dalam musnadnya juz II hal. 50). Ngeri juga kan, jika kita melakukan perbuatan yang kita sendiri nggak tahu hukumnya?bahkan alih-alih,masuk ke dalam golongan tersebut, lagipula, mengungkapkan kasih sayang kepada orang yang kita cintai(istri,suami,orang tua,adik,kakak), tidak perlu hari khusus kan?..bisa kapan saja.

source:

*http://palingseru.com/7663/asal-mula-hari-valentine

*http://en.wikipedia.org/wiki/Valentine_day

Versi Indonesia:http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Valentine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s