Kerudung Konservatif

Sudah sejak sebulan lalu, saya dan si kecil mempersiapkan kado untuk anak perempuan tetangga kami, yang kebetulan berulang tahun di penghujung bulan April. Bukan apa-apa, tapi sengaja saya beli diawal agar tidak lupa, dan anggrannya tidak terpakai kemana-mana. Sebenarnya acaranya tidak menggambarkan ulang tahun sama sekali, tidak ada tiup lilin, kue, bahkan tak ada nyanyian. Acara cuma makan-makan, tamunya hanya empat orang ibu-ibu cantik, yang didominasi American native, saya dan satu ibu yang berasal dari Nepal.

Lokasi acara berada di taman belakang, dan ternyata tidak hanya grup kami yang ada disana, sekelompok bapak-bapak dari timur tengah tampaknya juga tengah asyik berbicara, sambil sesekali melihat anak-anak mereka yang membaur dengan anak-anak kami. Sore itu sungguh seru dan ramai, membuat saya tak sadar ternyata waktu menunjukkan pukul 7, yang berarti magrib akan segera tiba.

Sebenarnya isi pembicaraan saya dan ibu-ibu ini biasa saja, mulai dari perihal anak, masakan, budaya, hingga kesamaan kami menyukai kota kecil tempat saya tinggal saat ini, Logan, Utah. Dua dari ibu-ibu yang notabene American native menyatakan, bahwa kota ini terkategori kota yang nyaman dan aman bagi anak-anak, kriminalitas sangat jarang terjadi, minuman keras cukup sulit dijumpai, pasangan muda-mudi juga masih terlihat santun, kalaupun ada yang ‘bertingkah aneh’, hanya bisa dijumpai disekitar transit bus. Selebihnya, jarang terjadi ditempat-tempat umum(meski belakangan saya protes, karena di kampus pernah menjumpai sepasang muda mudi yang tengah bercumbu, dan harus mengalihkan perhatian si kecil sambil menjelaskannya sepanjang perjalanan pulang).

Pembicaraan semakin menghangat, tatkala muncul suami dari salah satu teman nativesaya, yang tak lain adalah tuan rumah, sambil membawakan beberapa botol air putih. Tiba-tiba beliau(sebut saja Mr John) ikut dalam group ibu-ibu, sambil mengawali pembicaraan khusus kepada saya dan teman saya yang berasal dari Nepal. Awalnya Mr John membahas setiap State yang pernah disinggahi, kultur masyarakatnya, kondisi keamanan ditiap State, hingga pada kesimpulan bahwa ia tak akan mengajak keluarganya ke Statelain, mengingat sejauh ini, Logan masih menjadi tempat yang paling aman. Pembicaraan dilanjut dengan penjelasan teman saya yang berasal dari Nepal, tentang kondisi politik di Nepal, kondisi masyarakatnya yang sangat sulit mendapatkan air bersih, listrik dibatasi, hingga keinginannya untuk tetap tinggal di US untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Tibalah giliran saya ditanya oleh Mr. John, mulai dari negara asal, makanan khas, kebudayaan, hingga membahas soal kerudung. Entah kenapa, untuk yang satu ini, saya selalu bersemangat untuk membahasnya pada siapa saja yang bertanya. Awalnya Mr John menanyakan makna kerudung yang saya pakai, dan saya katakan bahwa ini sebuah kewajiban bagi muslimah untuk memakainya.

‘When God asks you to do something, then just do it!

Sambil saya ingat-ingat, kalau pakaian dan makanan memang tidak ada illatnya atau sesuatu yang memunculkan hukum. Maka ketika ada yang menanyakan, mengapa muslim tidak makan daging babi, ya karena Tuhan saya memintanya demikian, bukan karena ada cacing pitanya. Maka ketika Mr John menanyakan, adakah tujuannya mengapa saya diharuskan menutup kepala saya? Ya saya bilang, ini yang diminta oleh Tuhan. Diapun mengangguk, sambil tiba-tiba mengatakan, bahwa saya dan kerudung yang saya pakai, merupakan contoh orang yang konservatif. Wah, saya jadi penasaran dengan maksud pernyataan Mr John ini, sayangnya saat Mr John ingin menjelaskan, teman Nepal saya langsung komplain, tidak setuju bahwa makna konservatif tidaklah sesempit itu, ia menyatakan bahwa bicara konservatif tidak melulu soal agama, masalah politik di negaranya juga banyak menyinggung pemikiran konservatif, hal ini mulai diadopsi sejak puluhan tahun lalu, hingga saat dia meninggalkan Nepal. Akhirnya pembicaraan saya tutup dengan sebuah pernyataan(berhubung teman Nepal saya tengah minum, hehe), bahwa kita tidak bisa menjustifikasi seseorang apakah dia konservatif atau tidak, hanya karena selalu menyandarkan pada agamanya, atau memperlihatkan ‘simbol’ agamanya. Sepengetahuan saya, konservatif sama saja menyamakannya dengan tradisi, yang berarti Mr John menyamakan kerudung saya, dengan sesuatu yang muncul dari budaya, padahal kerudung bukanlah budaya, tapi sebuah aturan hukum yang ada dalam Islam. Mr John pun mengangguk-angguk kembali, entah mengerti atau tidak, yang jelas, dia meminta istrinya untuk mengadakan potluck saat summer nanti, dan meminta saya untuk datang kembali. Tidak ‘kapok’ rupanya…hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s