Mencicipi Masakan ala Turki

002

Siang ini,  saya dan sikecil berkesempatan untuk main kerumah salah satu sahabat saya, sesama penghuni apartemen. Sebelumnya melalui pesan di facebook, sahabat saya ini mengabarkan akan membuat makanan khas negaranya, dan belajar menjahit bersama. Sayangnya kehadiran saya terlambat satu jam, karena pagi harinya kulkas dirumah tiba-tiba mati, jadilah saya harus menunggu hingga selesai diperbaiki.

Sahabat saya ini berasal dari Turki, dan saat saya tiba dirumahnya sudah ada beberapa teman-teman  Turki lainnya, Palestine dan satu dari Uighur. Begitu saya datang, sudah disambut dengan hidangan pembuka berupa sup yang dicampur dengan pasta, cara makannya di’cocol’ dengan roti, dan karena lapar, piring saya bersih dalam sekejap. Hidangan selanjutnya berupa makanan utama, terdiri dari nasi putih, daging sapi yang digodog selama 3 jam, tumisan ala turki dan salad, inipun habis dalam waktu sepuluh menit saja.

Selanjutnya ditutup dengan hidangan penutup, berupa kue khas ala Turki. Sikecil yang sedari awal ‘cuek’ dengan makanan yang dihidangkan, langsung menuju meja saya dan meminta beberapa potong kue. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari makanan-makanan tadi, terutama bagi saya yang berlidah Asia, yang tidak bisa makan jika tidak terasa pedas. Namun dari pertemuan tadi siang, meninggalkan kesan yang mendalam.

Kesan pertama, karena saya bisa bertemu dengan sister dari berbagai negara, terutama negara yang selama ini mengalami ‘konflik’, terutama perempuannya yang terintimidasi dari sisi pakaian. Hingga pembicaraan kami akhirnya mengarah pada konsep menutup aurat, betapa dua dari sahabat saya tadi begitu marahnya, ketika beberapa orang menanyakan tentang hal ini.

074
kopi Turki yang rasanya maknyuss

Kalimatnya kurang lebih seperti ini(lupakan grammarnya ya); “I really angry, when they ask me about hijab“

Tanya saya,”why?”.

Diapun menjawab,”Because, they don’t understand about the condition in my country. Women in the public don’t allow to wear hijab“, dia melanjutkan,”People said that i am in USA now, so why i don’t wear hijab”, (sambil menampakkan wajah kecewa),”aargh, i hate that question!”

Saya cukup ‘geli’ mendengar curhatan-curhatan para sister ini, meski disisi lain cukup prihatin dengan kondisi yang mereka alami. Akhirnya saya katakan, bahwa menutup aurat memang kewajiban atas setiap muslim, meski demikian saya juga memberikan penguatan kepada mereka, atas apa yang terjadi dinegaranya. Dari sini saya merenung, betapa muslimah di Indonesia sangat beruntung, memakai kerudung dan jilbab bisa dengan leluasa, tanpa intimidasi seperti yang terjadi di Uigur dan Turki. Bahkan teman saya di Turki mengatakan, bahwa pegawai negeri sipil perempuan dilarang menutup auratnya, dan sesekali pemerintah mengadakan razia bagi perempuan yang menutup auratnya dengan sempurna(berjilbab dan berkerudung, sambil menunjuk kearah saya). Kaget juga sebenarnya, tapi itulah realitas yang terjadi. Semoga bulan depan, saya masih diundang makan-makan, sambil membahas hal-hal menarik dan bertukar fikiran dengan sisters yang saya cintai sebagai sesama muslim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s