Kebat-kebit Sekolah di Amerika

Sebanyak 17 siswa tewas, setelah seorang alumnus sekolah bernama Cruz menembak siswa-siswi SMA yang berlokasi di Florida, dengan membabi buta. Ini adalah kesekian kalinya terjadi, teror namun pelakunya tidak disebut teroris.

Sebegitu menyeramkannya kah bersekolah di Amerika? Bisa jadi. Saya masih ingat, penembakan yang terjadi di Colorado, dan saat itu si sulung masih sekolah TK di negara bagian Utah, AS. Colorado-Utah itu dekat, dan rasanya ngeri-ngeri sedap saat itu.

Memang isu kepemilikan senpri alias senjata pribadi memang menjadi hot topic di AS hingga kini. Mengapa bisa? Ya iya lah, AS sebagai negara yang menganut ideologi sekuler, tak terikat dengan aturan agama apapun bebas menentukan haknya dalam berkehidupan, termasuk di dalamnya hak kepemilikan. Negara kampium demokrasi ini tentu menjadi surga bagi siapa saja yang menginginkan kebebasan. Makanya, siapa saja yang memutuskan untuk tinggal di sana, at least for a while, harus siap dengan segala konsekwensi.

Bagi yang Muslim, ini adalah tantangan yang bisa ditaklukan. Asalkan Kita kuat dalam berpegang pada prinsip-prinsip agama, Tak mudah goyah mengikuti arus, dan mengawal anak agar tak tergerus, InsyaAllah tak masalah dimanapun Kita tinggal. Namun, khusus untuk Amerika tampaknya perlu berpikir seribu Kali, mengingat kemanan disana kurang bersahabat untuk anak-anak. Tapi jangan salah, peluang dakwah di Sana masih terbuka lebar, terutama meluruskan hakikat Islam yang sebenarnya ke native yang hampir setiap hari, mendapatkan black propaganda dari media mainstream di sana. Ah, jadi rindu Logan dengan segala printilannya.

Advertisements

Mengendalikan Mood

Mood yang suka swing sesuka hati itu alias berubah ubah itu, ternyata bisa dikendalikan lho. Cung, siapa yang moody?. Tinggal di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, sudah dipastikan akan memunculkan yang namanya persinggungan, ujung-ujungnya apalagi kalau bukan bikin Kita jadi uring-uringan alias mood moodan.

Tapi, jangan khawatir karena yang namanya mood ternyata bisa dikendalikan. Saya pernah, baru pulang dari aktivitas yang memakan waktu seharian, begitu sampai rumah kondisinya kayak kapal pecah, rupanya si kecil habis main, ngajak sepupunya main habis itu ndak diberesin. Belum kelar puyengnya, si sulung ngabarin ada tugas sekolah mendadak yang harus dibawa esok, padahal waktu itu sudah sore.😭😭

Nyerah?..nggak laah. Marah? Pastinya, tapi sebisa mungkin kemarahan itu disalurkan pada tempatnya. Lantas, gimana caranya?

Pertama, jangan lupa langsung istighfar, exhale-inhale alias tarik napas dalam dalam lalu hempaskan perlahan. Kedua, ambil wudhu sekalian persiapan sholat kalau mendekati waktu sholat 5 waktu. Ketiga, biasanya saya bergerak menyibukan diri, sambil melakukan afirmasi positif agar hal-hal negatif tadi bisa diubah menjadi potensi dan kita ganti sudut pandang menjadi Hal yang menyenangkan. Misalkan, rumah berantakan anggap saja warning buat Kita agar terus menjaga kebugaran biar keluar keringat saat bergerak beresin rumah. Keempat, mencoba melist mana saja yang bisa diselesaikan, dan dikerjakan pelan-pelan.

Terakhir, jangan lupa selalu hadirkan Allah dalam segala hal. Apapun yang Kita lakukan, semua semata karena Allah. Ikhlas menjadi istri, orang tua dan ibu. Kalau di dunia luar semisal di ibu-ibu arisan? Atau pertemuan orang tua murid? Ya sama, Kita anggap semuanya sebagai sesama saudara yang harus kita jaga perasaanya, mereka juga manusia yang perlu kita hargai keberadaanya, Dan kalau muslim perlu saling mengingatkan agar senantiasa ada dalam hal kebaikan dan Taqwa. Selamat mencoba!

Gadget Telah Menggeser Peran Orang tua sebagai Pendidik

“Sekarang, anak cucu kita tidak lagi menjadikan orang tua dan guru sebagai satu-satunya sumber informasi dan kebajikan. Mereka lebih banyak mendapatkan semua itu dari gadget dan hp. Ini lalu mempengaruhi cara hidup kita semua,” Itu adalah pernyataan Menag di hadapan lebih dari sepuluh ribu masyarakat dan santri Pondok Pesantren Bugen Al Itqan, Semarang, Minggu (15/01). https://www.kemenag.go.id/…/menag-sikap-menolak-kedatangan-…

Menyikapi pernyataan tersebut: Continue reading

Masih Tentang Rohingya

488101_3386396740951_2066193476_n

“Anak-anak dibakar di depan ibunya” demikian judul berita di sebuah mediaonline yang saya baca pagi ini. Baiklah, mungkin datanya kurang valid, tapi bagaimana jika berita itu ditulis oleh beberapa media masa yang terverifikasi semisal Republika, atau media lokal di sana yang melihat faktanya secara langsung mengenai apa yang sesungguhnya terjadi? Bahwa saat ini muslim Rohingya tengah ditindas, bahwa ini dilakukan oleh teroris karena melakukan teror terutama kepada wanita dan anak-anak. Ups, saya lupa bahwa teroris hanya lekat dengan Islam, meski seringkali tak terbukti bahwa umat Islam pelakunya, pokoknya yowis Islam teroris yang lain bukan!

Rohingya…adalah kelompok muslim minoritas yang kurang seksi untuk dipublikasikan media internasional, saat ini mereka kembali mengalami intimidasi dan banyak yang meregang nyawa. Setidaknya 60 warga yang kebanyakan perempuan dan anak-anak tewas dengan kondisi yang menenaskan, mereka terbakar (baca:dibakar) oleh militer Myanmar dengan dalih memerangi muslim radikal yang nyatanya tak terbukti hingga saat ini. Bagaimana bisa disebut radikal, kalau untuk melindungi diri saja mereka sudah tidak sanggup. Benar-benar tuduhan yang mengada-ada. Saya jadi teringat empat tahun lalu, dimana Allah mempertemukan langsung dengan muslim Rohingya yang berhasil mendapatkan suaka ke Amerika. Tidak mudah, karena perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Begini kurang lebih ceritanya.

Continue reading

Mencicipi Masakan ala Turki

002

Siang ini,  saya dan sikecil berkesempatan untuk main kerumah salah satu sahabat saya, sesama penghuni apartemen. Sebelumnya melalui pesan di facebook, sahabat saya ini mengabarkan akan membuat makanan khas negaranya, dan belajar menjahit bersama. Sayangnya kehadiran saya terlambat satu jam, karena pagi harinya kulkas dirumah tiba-tiba mati, jadilah saya harus menunggu hingga selesai diperbaiki.

Sahabat saya ini berasal dari Turki, dan saat saya tiba dirumahnya sudah ada beberapa teman-teman  Turki lainnya, Palestine dan satu dari Uighur. Begitu saya datang, sudah disambut dengan hidangan pembuka berupa sup yang dicampur dengan pasta, cara makannya di’cocol’ dengan roti, dan karena lapar, piring saya bersih dalam sekejap. Hidangan selanjutnya berupa makanan utama, terdiri dari nasi putih, daging sapi yang digodog selama 3 jam, tumisan ala turki dan salad, inipun habis dalam waktu sepuluh menit saja. Continue reading

Jalan-jalan ke Main Street dan Hari Valentine

 

427240_2575627312222_1175496262_n

Acara pertemuan dikelas International wives kemarin, ternyata menyisakan cerita. Hari itu kami membahas tentang hari Valentine. Sayangnya saya telat hadir sekitar 10 menit, jadi tidak ikut mendengarkan, apakah setiap negara merayakannya atau tidak. Tapi saya cukup beruntung ketika datang, para ibu koordinator yang notabene merupakan native Amerika, menanyakan kepada saya, apakah dinegara saya merayakan Valentine atau tidak. Saya bicara terus terang, dan satu catatan disaya bahwa orang-orang bule ditempat saya khususnya, akan lebih respect jika kita terus terang. Jadi teringat kisah teman Malaysia saya minggu lalu, ketika dia diundang makan, sempat memberikan list makanan yang tidak boleh dia makan, dan selanjutnya di dinner-dinner berikutnya, tidak ada makanan yang ada dalam list, bahkan tuan rumah yang nota bene native Logan Amerika ini menanyakan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan, dan tidak boleh dimakan,maka mereka akan hormati hal itu. Continue reading

Kerudung Konservatif

Sudah sejak sebulan lalu, saya dan si kecil mempersiapkan kado untuk anak perempuan tetangga kami, yang kebetulan berulang tahun di penghujung bulan April. Bukan apa-apa, tapi sengaja saya beli diawal agar tidak lupa, dan anggrannya tidak terpakai kemana-mana. Sebenarnya acaranya tidak menggambarkan ulang tahun sama sekali, tidak ada tiup lilin, kue, bahkan tak ada nyanyian. Acara cuma makan-makan, tamunya hanya empat orang ibu-ibu cantik, yang didominasi American native, saya dan satu ibu yang berasal dari Nepal.

Lokasi acara berada di taman belakang, dan ternyata tidak hanya grup kami yang ada disana, sekelompok bapak-bapak dari timur tengah tampaknya juga tengah asyik berbicara, sambil sesekali melihat anak-anak mereka yang membaur dengan anak-anak kami. Sore itu sungguh seru dan ramai, membuat saya tak sadar ternyata waktu menunjukkan pukul 7, yang berarti magrib akan segera tiba. Continue reading