Gadget Telah Menggeser Peran Orang tua sebagai Pendidik

“Sekarang, anak cucu kita tidak lagi menjadikan orang tua dan guru sebagai satu-satunya sumber informasi dan kebajikan. Mereka lebih banyak mendapatkan semua itu dari gadget dan hp. Ini lalu mempengaruhi cara hidup kita semua,” Itu adalah pernyataan Menag di hadapan lebih dari sepuluh ribu masyarakat dan santri Pondok Pesantren Bugen Al Itqan, Semarang, Minggu (15/01). https://www.kemenag.go.id/…/menag-sikap-menolak-kedatangan-…

Menyikapi pernyataan tersebut:

Pertama, kita pantas merasa miris dan sedih karena selayaknya orang tua lah yang menjadi rujukan pertama dan utama bagi anak anaknya. Merekalah semestinya menjadi orang paling dekat dan paling intens berinteraksi dengan anak anak. Orang tualah yang dituntut untuk menanamkan pendidikan keimanan, membangun ketaatan pada hukum Allah, serta memberikan tauladan kebaikan pada anak anaknya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw mengingatkan kita tentang betap besarnya peran orang tua dalam menjaga fitrah keturunannya agar tetap dalam jalannya yang lurus sebagai hamba Allah. Sebaliknya, orang tua pun bisa menjerumuskan anak anaknya menjadi makhluk pembangkang Penciptanya seperti Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Namun, nampaknya sabda Rasulullah saw tersebut sudah banyak diabaikan oleh tidak sedikit orang tua sehingga mereka abai terhadap peran pentingnya ini.
Kedua, menjadi pertanyaan: “Mengapa orang tua menjadi abai terhadap peran besar yang sudah diberikan Allah? Padahal pasti Allah membebankan peran tersebut dengan membekali kemampuan pada orang tua (QS.al Baqarah[2]:286). Dan tentu saja Dia akan menuntut pertanggung jawaban, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. [HR. al-Bukhâri]

Berikut jawabannya:

Kapitalisme- liberalisme- sekulerisme adalah biang terabaikannya peran orang tua dalam mendidik anak. Ideologi ini menghilangkan tanggung jawab negara pada rakyatnya. Rakyat dipaksa mengurusi kebutuhannya sendiri, sebagai contoh: 1) kebijakan BPJS dalam bidang kesehatan dan penghilangan subsidi listrik dan BBM dalam sector energy. Jelas kebijakan ini membuat hidup rakyat kian sengsara, kondisi ekonomi pun semakin sulit. Demi ketahanan ekonomi keluarga para ibu terus didorong dan difasilitasi masuk ke dunia kerja. Ujung ujungnya anak pun ditelantarkan. 2) di bidang pendidikan, dalam sistem ini negara tidak memberikan pendidikan yang cukup pada para orang tua untuk menjalankan perannya sebagai pendidik. Akibatnya tidak sedikit orang tua yang tidak mengerti tanggung jawabnya atau kalupun mengerti, mereka tidak memahami cara menjalankannya. 3) standar materi yang dijunjung tinggi ideology ini sudah menjerumuskan siapapun untuk mengabdikan seluruh hidupnya demi meraup sebesar besarnya kesenangan materi sekalipun mereka harus merelakan kehilangan waktu berharganya bersama anak. Demi uang anak pun merasa “cukup” dititipkan pada sekolah, baby sitter, TV, atau gadget. Jadi wajar jika kemudian anak lebih nyaman di samping TV dan gadget dibanding bercengkerama dengan orang tuanya. Nasihat dan ajaran orang tua pun tak lagi diindahkan.
Fenomena anak menjadikan gadget sebagai sumber informasi dan kebajikan tidak cukup dihadapi oleh individu atau keluarga, namun membutuhkan hadirnya negara. Sumber masalahnya adalah penerapan sistem kehidupan yang salah, karenanya solusinya adalah mengganti sistem yang telah terbukti merusak. Hanya Khilafah Islam yang mampu mengembalikan peran orang tua sebagai pendidik anak anak mereka. Dalam Khilafah, negara adalah roo’in, negara akan memastikan setiap orang tua mampu menjalankan tugasnya sebagai pendidik, baik dengan penerapan sistem pendidikan Islam, pelaksanaaan sitem ekonomi Islam, serta aturan Islam lainnya[] Wallaahu a’lam.

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad (Ketua Lajnah Tsaqofiyah DPP Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)